adfly

Sunday, 12 January 2014


                  Diriwayatkan oleh Umar bin Khatthab r.a., beliau berkata : saya bersama Rasulullah s.a.w sedang duduk-duduk. Rasul s.a.w. bertanya kepada para sahabat, “Katakan kepadaku, siapakah makhluk Allah yang paling besar imannya?” Para sahabat menjawab; ‘Para malaikat, wahai Rasul’. Nabi s.a.w bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, kerana Allah s.w.t telah memberikan mereka tempat”. Sahabat menjawab, “Para Nabi yang diberi kemuliaan oleh Allah s.w.t, wahai Rasul”. Nabi s.a.w. bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, kerana Allah s.w.t telah memberikan mereka tempat”. Sahabat menjawab lagi, “Para syuhada yang ikut bersyahid bersama para Nabi, wahai Rasul”. Nabi s.a.w. bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, kerana Allah s.w.t telah memberikan mereka tempat”.
“Lalu siapa, wahai Rasul?”, tanya para sahabat.
Lalu Nabi s.a.w. bersabda, “Kaum yang hidup sesudahku. Mereka beriman kepadaku, dan mereka tidak pernah melihatku, mereka membenarkanku, dan mereka tidak pernah bertemu dengan aku. Mereka menemukan kertas yang menggantung, lalu mereka mengamalkan apa yang ada pada kertas itu. Maka, mereka-mereka itulah yang orang-orang yang paling utama di antara orang-orang yang beriman”. [Musnad Abî Ya’lâ, hadits nombor 160].

Waktu yang ditunggu-tunggu itu belum datang juga, namun beberapa orang masih terus mencari. Mereka menelusuri hujung-hujung kota Mekkah. Dari satu tempat ke tempat lain, orang-orang yang merindukan kehadiran seorang pembebas itu tak lupa bertanya kepada orang-orang yang mereka jumpai di setiap tempat. Mereka bertanya begini kepada setiap orang, “Siapakah di antara kalian yang memiliki bayi laki-laki?”. Namun tak seorang pun mengiyakan pertanyaannya. Orang awam tentu tidak memahami maksud pertanyaan itu, namun orang-orang itu tidak juga berhenti untuk mencari dan menanyakan di mana gerangan bayi laki-laki yang dilahirkan. Semuanya ini dilakukan untuk membuktikan kepercayaan yang selama ini diyakininya. Bahawa dunia yang telah rosak sedang menanti kedatangannya.


Hingga pada suatu pagi.

Sebagaimana aktifitas yang telah diberlakukan semenjak zaman nabi Ibrahim a.s, setiap bayi yang lahir pada saat itu segera di-thawaf-kan. Ini tidak lain untuk mendapatkan hidup yang penuh barokah, yakni bertambahnya kebaikan lahir dan batin, serta mengharapkan kemuliaan dan petunjuk dari Allah s.w.t. Tidak terkecuali bagi seorang Sayyid Abdul Muththalib, yang terkenal masih bersih dalam urusan teologi. Begitu mengetahui cucu laki-lakinya lahir, maka segeralah beliau membawa bayi itu menuju Ka’bah, lalu Thawaf, membawa bayi itu mengelilingi Ka’bah tujuh kali sambil berdoa kepada Allah s.w.t.

**

Tepat sesaat setelah Sayyid Muththalib memasuki rumah setelah men-thawaf-kan cucunya, lewatlah seseorang yang selama beberapa hari ini mencari kelahiran seorang bayi laki-laki. Saat itu, orang yang sudah cukup tua tersebut masih menanyai kepada setiap orang yang dia temui, “Siapakah di antara kalian yang memiliki bayi laki-laki?”. Pada saat itulah sayyid Muththalib menyadari ada seorang tua yang mencari bayi laki-laki.
Dipanggilnya orang tua itu, lalu beliau berkata kepadanya, “Saya punya bayi laki-laki, tapi, tolong katakan, apa kepentingan Anda mencari bayi laki-laki?”.
“Saya ingin melihat bayi laki-laki yang baru lahir. Itu saja”, jawab orang tua tersebut yang sekonyong-konyong muncul semangat baru dalam dirinya. Tanpa memberikan kesulitan apapun, Sayyid Muththalib mempersilahkan orang tua itu masuk ke rumahnya untuk melihat bayi yang dimaksud.

Apa yang terjadi saat orang tua itu melihat bayi yang ditanyakannya, adalah hal yang tidak pernah dibayangkan oleh sayyid Muththalib. Sang Sayyid memang tidak pernah berfikir apa pun. Sebagai layaknya seorang datuk yang berbahagia mempunyai cucu, beliau cukup bersyukur sang cucu dilahirkan dalam keadaan sihat wal-afiat. Namun, bagi orang tua yang sedang mencari sesuatu itu tidak demikian. Begitu melihat bayi dan menemukan ciri-ciri sebagaimana disebutkan dalam al-Kitab yang dia baca, serta informasi dari orang-orang terdahulu, orang tua itu berseru, “Benar, benar sekali ciri-cirinya, inilah bayi yang akan menjadi Nabi akhir zaman kelak…”. Dalam kebengongan Sayyid Muththalib, pengsanlah orang tua yang selama ini mencari-cari bayi laki-laki tersebut, lalu wafat pada saat itu juga.

***
Orang-orang yang mencari bayi laki-laki saat itu, termasuk seorang tua yang akhirnya mendapatkannya dan pengsan, adalah para agamawan yang meyakini akan kehadiran seorang Nabi akhir zaman. Mereka sangat teguh memegang berita akan kemunculan nabi akhir zaman ini. Semakin kuat keyakinan mereka, semakin mereka meninggalkan urusan-urusan dunianya guna menanti atau mencari nabi akhir zaman itu. Penantian nabi akhir zaman itu, selain berkat informasi dari kitab-kitab mereka, saat itu, mereka juga sangat merasakan bahawa keadaan membutuhkan kehadiran sang Nabi.

Sedang sang bayi yang ditunggu adalah bayi Muhammad Shalla-llâhu ‘alayhi wa sallama, bayi yang kelak menjadi nabi terakhir.
Demikianlah, akhir dari kisah pencarian para agamawan pada zaman pra Nabi Muhammad saw. Pencarian atas apa yang diisyaratkan dalam kitab-kitab mereka, bahawa akan diutusnya nabi akhir zaman untuk meluruskan kembali akidah-akidah yang telah tidak berdasar.
Dari kisah ini, kita mengetahui betapa pada waktu itu masyarakat mengalu-alukan kehadiran Nabi Muhammad saw, ‘Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin’. (QS. 9:128). Hampir setiap kaum tahu bahawa ketika situasi sudah sangat rosak, nabi akhir zaman akan muncul. Namun, dari mana dia lahir, hal itu yang tidak pernah diketahui secara pasti. Yang diketahui pada saat itu adalah ciri-ciri tempat, posisi bintang, ciri-ciri bayi, dan lain sebagainya.
Dalam kitab-kitab lama, ciri-ciri tersebut ditulis secara jelas. Hingga masyarakat yang membaca kitab-kitab itu pun akan mengetahui pula. Tidak sekadar mengetahui, tapi mereka juga berkeinginan untuk dekat dengan nabi akhir zaman tersebut. Salah satu yang diimpikan oleh berbagai kaum saat itu, adalah harapan agar nabi akhir zaman itu muncul dari keturunannya. Hal demikian tentu sangat manusiawi. Maka, untuk mewujudkan impian itu, banyak kaum yang melakukan migrasi dari kampung halamannya, untuk mencari tempat yang disebutkan ciri-cirinya oleh kitab-kitab lama.

Ada beberapa tempat yang saat itu menjadi pilihan para pencari nabi akhir zaman. Tempat-tempat itu antara lain adalah Mekkah, Madinah (Yathrib) serta Yaman. Salah satu dari tiga tempat itu diyakini menjadi tempat nabi akhir zaman dilahirkan. Banyak juga para agamawan yang menduga nabi akhir zaman masih akan muncul dari kawasan Jerusalem atau Damaskus.


***
Untuk kes Mekkah, orang-orang atau kaum non Quraisy yang minoriti adalah kaum pendatang yang sengaja tinggal di Mekkah untuk menanti kedatangan nabi akhir zaman. Sedangkan kes migrasi di Madinah, orang-orang Yahudi-lah yang banyak menempati kota tersebut waktu itu. Suku bangsa seperti Bani Nadhir, Quraizah, Qainuqa’ dan suku-suku kecil lainnya, yang sering muamalahnya menghiasi sejarah Islam dan târîkh Nabi saw, adalah keluarga-keluarga Yahudi yang bermigrasi dari berbagai kawasan, baik dari Jerusalem, Yaman, mahupun yang lainnya, ke daerah Madinah untuk menanti nabi akhir zaman. Migrasi-migrasi itu terjadi dengan harapan nabi akhir zaman muncul dari keturunan mereka, selain, tentunya, mengharapkan barokah tadi. Migrasi ke Madinah ini dilakukan sudah cukup lama, setidaknya mereka telah mendiami Madinah sekitar 100 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw.

Banyak sekali suku-bangsa yang percaya akan datangnya nabi akhir zaman. Mulai dari Ethiopia (Al-Habsyi) hingga Damaskus (Dimasyqa), serta dari Yaman hingga negeri-negeri Rusia. Semuanya menanti kedatangannya.
***
Sang nabi akhir zaman itu telah lahir. Namun, sangat disayangkan, Allah swt telah dengan cepat memanggil para agamawan yang menjadi “saksi penting” kebenaran Muhammad s.a.w ke sisi-Nya. Seolah-olah sebuah drama yang penuh liku, sedikit demi sedikit, para agamawan yang diharapkan kesaksiannya telah wafat. Tidak bisa dibayangkan, andaikata para agamawan ini, dan segenap murid serta keturunannya, masih hidup serta senantiasa mengikuti perkembangan bayi Nabi Muhammad saw hingga pada usia-usia dewasa dan kenabian, tentu sejarah akan berbicara lain.
Memang, kes-kes wafatnya para agamawan setelah melihat tanda-tanda adanya kenabian, seperti yang terjadi pada orang tua itu, bukanlah yang pertama kali. Dalam rakaman sejarah, banyak sekali informasi yang membahasnya, bahkan sejak zaman sayyid Abdullah—ayahanda Nabi Muhammad saw—belum menikah dengan sayyidah Aminah, dan juga pada masa-masa dalam kandungan sayyidah Aminah. Hingga pada suatu waktu di kemudian hari, tepatnya 40 tahun setelah kelahiran nabi, sejarah juga kehilangan seorang agamawan-monotheis yang informasi spiritualnya sangat berharga bagi keberlangsungan keyakinan terhadap adanya nabi akhir zaman.
Dalam hadits yang diriwayatkan sayyidah ‘Aisyah ra disebutkan bahawa setelah mendapatkan wahyu pertama, sayyidah Khadîjah ra—bersama nabi—mendatangi pak sedaranya, Waraqah bin Naufal, untuk meminta nasihat atas apa yang baru saja terjadi pada nabi. Waraqah bin Naufal adalah seorang agamawan ahli kitab suci.
Setelah Nabi Muhammad saw menceritakan semua yang terjadi kepada beliau—di gua hira itu—langsung saja Waraqah terperanjat dan menjawabnya,”Itu adalah Nâmûs yang diturunkan Allah s.w.t. kepada Musa a.s. Ya Tuhan, semoga saja aku masih hidup ketika orang-orang mengusir nabi ini…”.
Waraqah tahu, bahawa yang menemui Nabi Muhammad saw adalah Namûs, alias malaikat Jibril as, yang pernah menemui Nabi Musa as dulu. Pengakuan Waraqah ini mirip dengan peristiwa yang terjadi beberapa tahun kemudian, saat Nabi Muhammad saw membacakan ayat al-Qur’an di hadapan jin, maka jin itu berkomentar, “Mereka berkata, ’Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (iaitu al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. [QS. 46:30].
Dan Waraqah tahu, bahawa yang ada di depannya saat itu adalah seorang nabi, yang di kemudian hari akan diusir oleh kaumnya sendiri dari tanah kelahirannya. Tapi, harapan Waraqah untuk menjadi saksi perilaku orang-orang terhadap Nabi Muhammad saw tidak kesampaian. Beberapa hari setelah itu, beliau wafat. Untuk ke sekian kalinya, Allah swt memanggil hamba-Nya yang bisa menjadi “saksi spritual” atas kenabian Muhammad saw. Tapi, itulah, Allah swt tentu memiliki kehendak-kehendak tersendiri yang tidak pernah kita ketahui.

***
Dengan wafatnya beberapa agamawan yang menjadi saksi kebenaran kelahiran sang nabi, terputus pula informasi-informasi ini. Situasi informasi tentang nabi akhir zaman kembali ke titik nol. Namun inti berita yang ada dalam kitab-kitab tentang akan diutusnya nabi akhir zaman saat itu masih ada. Kerana realiti teologis memang memerlukannya. Hanya berita ini yang telah diketahui oleh para agamawan di berbagai tempat, sebagaimana berita akan kelahirannya. Dan mereka hanya dapat memegang keyakinannya, tanpa ada kemampuan untuk mencarinya, sebagaimana pendahulu-pendahulu mereka menemukan waktu saat-saat dilahirkannya Nabi Muhammad s.a.w. Nampaknya, agamawan yang baru membaca kitab-kitab suci itu lebih percaya bahawa nabi akhir zaman sudah benar-benar lahir di dunia ini.

Memang banyak ditemukan beberapa anak laki-laki yang memiliki nama Ahmad atau Muhammad pada masa pra kenabian. Menamakan Ahmad atau Muhammad kerana orang tuanya sangat berharap anaknya menjadi nabi. Tetapi, para agamawan tentu sudah memiliki wasilah atau cara tersendiri untuk menentukan “validiti stempel” yang ada pada seorang nabi, apa lagi nabi akhir zaman. Maka, mereka tinggal menanti detik-detik kedatangan risalah dan deklarasi kenabian sang nabi akhir zaman itu.
***
Secara umum, dapat dikatakan bahawa kebanyakan para agamawan saat itu sudah mengetahui bahawa nabi akhir zaman akan diturunkan dari keluarga tertentu, dan di tempat tertentu. Ada saja yang mengetahui, atau setidaknya meyakini, bahawa nabi akhir zaman itu muncul dari keluarga Bani Hasyim, di daerah Mekkah, dan lain sebagainya. Ini misalnya terjadi kepada seorang pedagang dari Mekkah yang berjulukan Atîq, saat berdagang ke Yaman. Sebagai pedagang yang juga intelektual, ke mana pun pergi beliau tidak lupa untuk berkunjung ke kalangan agamawan.

Saat beliau menemui seorang agamawan di Yaman, dan beliau ditanya tentang asal daerah serta dari keluarga apa, maka setelah mendapatkan jawaban, sang agamawan itu menyatakan, “Nanti akan ada nabi akhir zaman dari daerah kamu dan dari keluarga kamu”. Beliau—Atîq—percaya atas informasi yang disampaikan agamawan Yaman itu. Begitu sang nabi muncul dan mendakwahkan kembali ajaran-ajaran Tauhîd [monotheisme] yang hilang, dia –Atîq– pun segera bersaksi atas kebenaran ajaran itu. Beliau menjadi laki-laki pertama yang membenarkan risalah yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Saat masuk Islam itu, beliau mengganti nama menjadi Abû Bakar, yang kelak menjadi sahabat utama sang nabi akhir zaman dan mendapatkan gelar Ash-Shiddîq, yang senantiasa membenarkan. Ini adalah jawaban atas pertanyaan, kenapa Abû Bakar r.a. selalu saja membenarkan kebenaran Muhammad.
***
Dalam al-Qur’an, Allah s.w.t. berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?”. Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu

saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. [QS. 3:81]

Para nabi berjanji kepada Allah s.w.t. bahawa bilamana datang seorang Rasul bernama Muhammad mereka akan iman kepadanya dan menolongnya. Perjanjian nabi-nabi ini mengikat pula para ummatnya. Namun, manusia selalu melakukan penentangan terhadap keputusan-keputusan Allah s.w.t. Para manusia itu ingkar, sebagaimana diceritakan dalam al-Qur’an, “Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada merekamaksudnya kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat dimana diterangkan sifat-sifatnya—, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu”.(QS. 2:89)
Itulah manusia yang sangat tidak beruntung dengan melakukan penolakan terhadap kenabian Muhammad s.a.w. Maka, sangat tepat jika Nabi Muhammad s.a.w. bersabda dalam hadits yang penulis nukil pada permulaan di atas. Bahawa orang yang menjadi saudara Nabi s.a.w. adalah orang yang tidak pernah melihat Nabi s.a.w. namun percaya akan kenabian dan selalu membenarkan sabda-sabda beliau. Orang-orang yang tidak pernah bertemu dengan Nabi s.a.w. tapi selalu membenarkan beliau itulah yang merupakan orang-orang paling utama di antara orang-orang beriman. Ya Allah, tetapkanlah kami untuk selalu beriman kepada-Mu dan kepada Nabi-Mu.

Saturday, 28 September 2013

Berbuat baiklah dan hormati lah ibubapa kita selagi mereka masih hidup.....



Ibu bapa merupakan insan yang paling rapat dan dihormati dalam institusi keluarga. Mereka banyak berkorban dalam membesarkan dan memberi didikan kepada anak-anak. Mereka tidak pernah meminta atau mengharapkan balasan atau bayaran terhadap penat lelah, pengorbanan dan kasih sayang yang mereka berikan.
Dewasa ini ramai anak-anak yang tidak menghormati ibu bapa mereka. Perkara ini amat serius terutamanya di negara Barat yang telah rosak dalam sistem sosial dan kekeluargaan. Anak-anak telah hilang rasa hormat, sering bercakap dengan nada tinggi dan kasar, bahkan ada yang berani memukul kerana tidak sependapat atau berselisih faham.
Yang lebih teruk, ada yang tidak segan silu menyaman ibu bapa mereka jika menyentuh hal peribadi mereka. Inilah kelemahan sistem manusia yang sering dikatakan untuk memenuhi hak asasi manusia tetapi tidak pernah mampu mendidik dan membentuk peribadi yang mulia.
Islam mengajar agar anak-anak menghormati ibu bapa dan menghargai pengorbanan mereka. Perintah ini banyak dimuatkan dalam al-Quran yang menunjukkan bahawa perkara ini amat penting.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungkannya dengan keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyusukannya selama dua tahun, bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada Aku kembalimu” (Luqman, 31: 14)
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua- dua ibu bapa…” (al-Ahqaf, 46: 15)
Menghormati dan taat kepada ibu bapa akan mewujudkan suasana yang harmoni, damai dan tenang dalam keluarga. Hadith RasulAllah di bawah wajar diperhati sebagai peringatan kepada kita dalam menjaga adab dengan ibu bapa.
“Bukanlah daripada golongan kamu, sesiapa yang tidak menghormati orang tua kami dan tidak pula mengasihi anak kecil kami.” (Hadis riwayat Tabrani).
RasululAllah tidak mengiktiraf mereka yang tidak menghormati ibu bapa mereka termasuk dalam golongan muslim. Dalam hadis yang lain, perbuatan derhaka kepada kepada ibu bapa merupakan maksiat yang akan di balas dengan segera di dunia ini.
“Dua kejahatan yang disegerakan balasan di dunia adalah zina dan menderhaka kepada dua ibu bapa.” (Hadis riwayat at-Tirmizi)
Sebagai contoh mudah, cerita lama si tanggang yang sombong dan mengina ibunya setelah menjadi nahkoda kapal, mendapat balasan dengan ditukar menjadi batu setelah ibunya merintih dan berdoa kepada Allah akan memberi pengajaran kepadanya.
Menderhaka kepada kedua ibu bapa merupakan dosa yang besar dan sangat dimurkai oleh Allah. Perkara ini diberikan contoh yang lebih mendalam dan lebih kecil sehingga kepada perkataan dan ucapan seharian.
Allah melarang anak-anak melawan ibu bapa mereka dengan nada yang kasar yang boleh menyentuh hati seperti perkaaan ‘ah’, ‘cis’, ‘uh’ dan sebagainya.
“Tuhanmu telah memerintahkan, supaya kamu tidak menyembah selain Allah, dan hendaklah berbuat santun terhadap kedua orang tua. Jika salah seorang telah lanjut usianya, atau kedua-duanya telah tua, janganlah sekali-kali engkau berani berkata ‘ah’ terhadap mereka dan janganlah engkau suka menggertak mereka. Tetapi berkatalah dengan sopan santun dan lemah lembut.” (al-Isra’, 17: 23 )
Perkara ini mungkin nampak kecil, namun Allah tetap menekannya agar manusia mengambil peringatan dalam menjaga adab dan sebagai batas-batas dan aturan yang perlu diikuti demi keharmonian hidup.
Sebagai anak, wajar kita sentiasa bertutur dengan lemah lembut dan mengucapkan kata-kata yang baik dan menyenangkan hati mereka. Dan lebih-lebih lagi kita dituntut agar mendoakan kesejahteraan mereka.
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidik aku pada waktu kecil” (al-Isra’, 17: 24)
Menghormati dan berbakti kepada ibu bapa merupakan suatu perkara yang sangat disukai oleh Allah dan termasuk dalam perbuatan yang menjadi keutamaan yang tinggi.
Diriwayatkan daripada Bukhri dan Muslim, Ibnu Umar berkata: Saya telah bertanya kepada Nabi Muhammad: Apakah perbuatan disukai oleh Allah? Lalu baginda bersabda: Sembahyang pada waktunya. Kemudian apa? tanya saya lagi. Baginda menjawab: Berbakti kepada kedua ibu bapa. Saya bertanya: Apa lagi. Jawab baginda: Berjihad pada jalan Allah.
Ketika ditanya oleh seorang sahabat daripada kaum Ansar mengenai masih adakah tanggungjawabnya terhadap ibu bapa yang sudah meninggal dunia, Rasulullah menjawab dengan sabdanya bermaksud:“Ada, iaitu berdoa, beristighafar untuk kedua-duanya, menyempurnakan janji, memuliakan sahabat taulan kedua-duanya dan menyambungkan silaturahim yang tidak sempat dijalinkan oleh kedua-duanya.” (Hadis riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah).
Marilah kita bersama-sama menyemai kasih sayang dan mewujudkan keharmonian dalam keluarga sehingga diberkahi dan mendatangkan sakinah. Semoga keharmonian dalam keluarga akan menyemarakan lagi kesejahteraan dan kualiti hidup bermasyarakat.

9 Panduan Hindari Daripada Maksiat..........





Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda;
"Sesungguhnya Allah telah menentukan bahagian zina pada keturunan Adam (manusia), ketentuan ini tidak dapat ditolak. Zina kedua mata adalah pandangan, zina lisan adalah perkataan, sementara nafsu yang berangan-angan dan menginginkan, lalu kemaluan yang membenarkan dan mendustakannya." [Riwayat Muslim]
Desakan jiwa yang meronta lantaran suasana sekeliling, hambatan hati yang mendengus lantaran keadaan persekitaran yang terbuka, semangat ingin mencuba lantaran ajakan atau perlian kawan yang mendesak, keghairahan nafsu serta bisikan syaitan yang berterusan, semuanya itu merupakan faktor atau punca beraninya manusia melakukan larangan serta tegahan Allah, termasuk melakukan dosa besar; zina.

Untuk mengelakkan berlakunya zina, panduan berikut perlu diusahakan.;


Panduan 1: 
Menuntut Ilmu.

Tuntutlah ilmu supaya datangnya kesedaran tentang haramnya zina serta bencananya. Mengetahui hukum adalah langkah yang paling asas untuk mengukuhkan iman. Hadirilah majlis ilmu kerana belajar dengan berguru akan menjadikan kita terpimpin.


Panduan 2: 
Amalkan Ilmu.

Ilmu agama semata-mata tidak memadai untuk menguatkan iman dan mendatangkan kekuatan bagi menjauhi zina, andainya ilmu itu tidak diamalkan sungguh-sungguh. Selain Ilmu syariat, seseorang itu perlu mendalami ilmu tauhid dan akhlak, agar rasa sentiasa diawasi oleh Allah, bukan setakat mengetahui Allah itu Maha Melihat.

Mudah-mudahan dengan rasa sentiasa diawasi, seseorang itu akan malu untuk menghampiri zina, apatah lagi untuk berzina. Jika dilihat orang pun dia akan malu, apatah lagi jika Allah SWT yang melihat. Rasa malu kepada Allah ini adalah akhlak hamba kepada Tuhannya. Ia merupakan benteng daripada terjebak kepada kemaksiatan.


Panduan 3: 
Dekati Orang Berilmu.

Selain menghadiri majlis ilmu secara rasmi, seseorang itu perlu mendekati orang berilmu dalam suasana tidak rasmi bagi mendapatkan pandangan, nasihat dan teguran.


Panduan 4: 
Berusaha Menjauhi Dosa.

Hindari dosa2 kecil yang membawa kepada terbiasanya melakukan dosa-dosa besar. Tinggalkan perkara yang makruh yang Allah tidak suka, serta jauhi sama sekali perkara haram yang Allah murkai.


Panduan 5: 
Menolak Segala Jalan Yang Membawa kepada Menghampiri Zina.

Dengan kata lain, menutup semua 'pintu' yang boleh mengarah kepada zina. Dalam istilah fikah, ia disebut sadduz zara'ik. Antaranya;

* Menjauhi pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan, terutama mengelakkan dari berdua-duaan.
* Mengelakkan dari mengenakan pakaian yang tidak menutup aurat serta tidak sempurna menutup aurat.
* Mengawal mata dari melihat perkara-perkara yang tidak halal yang boleh menaikkan nafsu seperti menonton pornografi atau melihat gambar lucah.

Rasulullah SAW menegaskan;
"Pandangan itu merupakan seutas panah beracun daripada panahan iblis. Barangsiapa yang menjaga atau mengawalnya, nescaya Allah akan mengurniakan jiwanya dalam kemanisan ibadat yang akan dirasainya sehingga hari kiamat." [HR: Imam Ahmad dan At-Tabrani]
Kata Pujangga Islam;
"Sesiapa yang menjaga pandangannya nescaya Allah akan menjaga jiwanya."
*Hindari tempat-tempat yang menimbulkan fitnah seperti tempat yang menggalakkan pergaulan bebas dan aktiviti maksiat.


Panduan 6: 

Mengamalkan Zikir.

Zikir yang diamalkan secara berterusan dan tersusun mampu mensucikan hati. Hati yang bersih akan kuat menolak ransangan nafsu untuk berbuat dosa.


Panduan 7: 
Bergaul Dengan Orang Yang Baik-Baik.

Pergaulan dengan orang yang baik akhlaknya, baik amalnya dan baik ilmunya dapat membantu seseorang untuk menghindarkan maksiat, kerana yang baik akan memimpin dan mengajak kita ke arah kebaikan. Mestilah kuatkan azam untuk mencari sahabat-sahibah yang dapat membantu memberi petunjuk ke jalan kebenaran dan berusahalah mewujudkan suasana pergaulan yang baik.


Panduan 8: 
Sibukkan Diri Dengan Ibadah Dan Kerja Kebaikan.

Jika selama ini seseorang itu ketagih melihat filem porno di internet, dia mestilah melawan ketagihan itu dengan penuh keazaman dengan banyak mengisi masa beribadah dan melakukan kerja-kerja kebaikan yang lain.


Panduan 9: 
Amalkan Sunnah Nabi SAW.

Adab-adab seharian bermula daripada bangun tidur hingga kita tidur kembali yang menjadi amalan Rasulullah SAW; marilah bersama kita sekeluarga amalkan. Yakinlah apabila kita bersungguh-sungguh 'ketagih' mengamalkannya dan menjadi amalan seharian, insyaAllah Allah akan memberi kekuatan untuk kita mampu mengawal diri daripada perlakuan yang tidak baik.

Sesungguhnya setiap amalan Rasulullah SAW bersulamkan doa-doa yang merupakan menjadi pelindung diri daripada pelbagai musibah.

Wallahu 'alam.

Ciri-ciri suami soleh dan isteri solehah.......


1. Kuat amalan agamanya. Menjaga solat fardhu, kerap berjemaah dan solat pada awal waktu. Auratnya juga sentiasa dipelihara dan memakai pakaian yang sopan. Sifat ini boleh dilihat terutama sewaktu bersukan.2. Akhlaknya baik, iaitu seorang yang nampak tegas, tetapi sebenarnya seorang yang lembut dan mudah bertolak ansur. Pertuturannya juga mesti sopan, melambangkan peribadi dan hatinya yang mulia.3. Tegas mempertahankan maruahnya. Tidak berkunjung ke tempat-tempat yang boleh menjatuhkan kredibilitinya.4. Amanah, tidak mengabaikan tugas yang diberikan dan tidak menyalahgunakan kuasa dan kedudukan.5. Tidak boros, tetapi tidak kedekut. Tahu membelanjakan wang dengan bijaksana.6. Menjaga mata dengan tidak melihat perempuan lain yang lalu lalang ketika sedang bercakap-cakap.7. Pergaulan yang terbatas, tidak mengamalkan cara hidup bebas walaupun dia tahu dirinya mampu berbuat demikian.8. Mempunyai rakan pergaulan yang baik. Rakan pergaulan seseorang itu biasanya sama.9. Bertanggungjawab. Lihatlah dia dengan keluarga dan ibu bapanya.10. Wajah yang tenang, tidak kira semasa bercakap atau membuat kerja atau masa kecemasan.


ermm nak jadi lelaki yang baik antaranya adalah ;
jadikan lah amal ibadat amal soleh itu sebagai kekasih yang utama…
kerana dialah dapat manjaga kita selama-lamanya….
setia menemani kita dalam apa-apa jua keadaan
susah dan senang kita ,,
bila kita mati dialah akan menjaga diri kita,,
bila di akhirt dia lah akan membawa kita ke syurga
dialah akan membimbing kita semasa melalui titian siratulmustaqim dengan cepat dan selamat.. akan ke syurga bersama-sama.. selamanya…amin cintailah dia dan hidup kita akan sempurna dunia dan akhirat amin insyaallah..
ini janji Allah…
......










ciri ciri wanita solehah idaman lelaki soleh


1. Kecantikan Dalaman~
Wanita yang tulen adalah wanita yang lemah lembut dalam pewarakannya tetapi prinsip dan nilai hidupnya begitu agung dan tinggi merantai dirinya.Itulah kecantikan dalaman yang sukar ditandingi.


2. Keanak-anakan~
Lelaki suka membela, menjaga, membimbing dan melindungi justeru mereka boleh berperanan menjadi pelindung kepada mereka.Keperibadian wanita yang manja keanak-anakan memang merupakan salah satu keindahannya namun tidaklah berkeanak-anakan yang melampau kerana akan menunjukkan bahawa diri wanita itu tidak matang.




3. Cantik~
NAFSU mengatakan wanita cantik pada rupanya,AKAL mengatakan wanita cantik pada ilmu dan kepandaiannya,HATI mengatakan wanita itu cantik pada akhlaknya.


4. Berakhlak Mulia~
"Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang solehah"Sebagai ibu, terukir di paparan dada.Sebagai isteri, pengubat duka nan lara.Sebagai kekasih, dirindui saban ketika.Sebagai mujahidah, berdiri dibelakang mujahidin.~Ciri-ciri wanita yang solehahTaat kepada Allah.Berbuat baik kepada ibu bapa.Sentiasa taat dan berkhidmat kepada suami dengan sepenuh hati.Menutup dan menjaga aurat.Tidak berhias apabila keluar rumah.Tidak keluar bersendirian atau bersama lelaki ajnabi kecuali bersama mahram.Berbuat baik dengan jiran tetangga.Suka mempunyai anak yang ramai dan berusaha untuk mendidik mereka.




5. Berpegang pada agama~
"Dikahwini wanita itu kerana 4 perkara, kecantikannya, hartanya, keturunannya, dan agamanya. Pilihlah yang paling beragama"


6. Dari keturunan yang baik-baik.~
Seorang wanita yang dari keturunan yang baik2 mudah diterima lelaki. Namun wanita yang berasal dari keturunan yang hina seperti anak zina atau sebagainya tidak wajar merasakan dirinya tidak layak menjadi wanita idaman. Islam mengangkat tinggi umatnya yang bertaubat dan sentiasa memperbaiki diri kerana taqwa menjadi darjat kemuliaan disisi Allah.


7. Bijaksana~
Saidatina Aisyah r.a. merupakan seorang tokoh intelektual terbilang. Sebanyak 2210 hadis sahih berjaya diriwayatkan selama 9 tahun hidup bersama Rasulullah s.a.w. Beliau merupakan fuqoha' (ahli hukum) Madinah yang unggul dan juga berpengetahuan dalam bidang perubatan.~Wanita idaman lelaki ialah wanita yang pandai tetapi tidak menunjuk-nunjuk
pandai kerana ianya mencabar ego lelaki lalu menyebabkan lelaki menyampah terhadapnya.


8. Tidak mempamerkan keseksian~
"Wanita yang berpakaian tetapi sebenarnya telanjang untuk mencari perhatian lelaki, yang melenggok-lenggokkan tubuhnya, yang kepalanya seperti punuk (bonggol) unta, mereka itu tidak akan masuk syurga"


9. Tidak Cerewet~
Wanita yang cerewet boleh merimaskan lelaki dan mudah menyebabkan lelaki menyampah terhadapnya.


10. Memahami lelaki~
Contoh: Yang berlaku: "Itulah abang! Asyik bekerja aje. Mementingkan diri sendiri... Tak ingat nak balik rumah... Tak abis-abis layan kawan.. kawan.. kawan... Hal rumah ni takkan nak suruh saya buat sorang!"Yang sebenarnya berlaku: Di pejabat, bos sambung meeting hingga pukul 7 malam. Singgah solat Maghrib di masjid. Ada penceramah idola. Dengar ceramah sehingga solat isyak. Dalam perjalanan pulang, kawan lama telefon minta jumpa di warung ada hal penting katanya. Pukul 10 malam baru sampai di rumah.


11. Tidak terlampau cemburu~
"Tidak boleh iri hati melainkan dalam dua perkara iaitu seseorang yang telah dikurniakan Allah harta lalu dihabiskan dijalan Allah dan orang yang dikurniakan ilmu pengetahuan, lalu ia mengeluarkan hukum berpandukan ilmunya (al-Quran dan Hadis) serta diajarkan kepada orang lain" (riwayat Al-Bukhari dan Muslim)


12. Sejuk mata memandang.
~Bersopan-santun, sentiasa memaniskan muka~ Sentiasa senyum~Menutup aurat~Ramah dan mesra~Menundukkan pandangan.


13. Pandai menaikkan semangat dan bermotivasi~
Lelaki lebih tertarik untuk mencari wanita yang pandai menaikkan semangat dan bermotivasi ketika dia memerlukannya.


14. Canggih~
Wanita yang pandai menyesuaikan diri dengan arus perkembangan semasa tetapi masih mengekalkan ciri-ciri wanita Islam yang berakhlak mulia dan menutup aurat.


15. Mempunyai persamaan yang bermakna~
Suatu hari,Imam Malik hairan melihat burung merpati dan gagak berkumpul bersama. Dengan spontan beliau berkata,"Kedua-duanya bersatu padahal jenisnya tidak sama". Ketika burung itu terbang,beliau melihat keduanya masih ada persamaan iaitu kedua-duanya cacat. Lalu beliau berkata,"Sebab itulah burung itu dapat bersatu".


16. Pemaaf~
Wanita yang suka mendahului meminta maaf walaupun dirinya tidak bersalah digambarkan mempunyai peribadi yang unggul dan mudah disayangi.


17. Seimbang~
Seimbang dari sudut pergaulan, keagamaan, pengurusan diri, dan pengurusan masa.


18. Berkeyakinan diri


19. Mempunyai 'body language' yang baik.(Diulangi, body language ye,samada cara percakapan,kawalan diri di hadapan org ramai dan sbgnya.Yang penting bukan bentuk body seseorang wanita itu yg jd ukuran..:p)


PESANAN :/
calon soleh…calon solehah….sesiapa pun mendambakannya tp ramai yang kata susah nak mencarinya…yang lelaki kate payah nk cari calon isteri yang solehah…yang wanita plak kata susah nk dapatkan calon suami soleh…saling tunding menunding…yg mana kesudahan sebenarnya berbalik kepada diri kita semua….sejauh mana usaha kita????bersama muhasabah diri…
dalam hal ini kesilapan kita adalah kerana terlampau MENCARI tp bukan MENJADI….cuba kita sama2 tukar konsep…aku nk calon soleh/an…langkah pertama…aku kene lengkapkan diri aku dengan pakej yang cukup dan lengkap untuk aku menjadi seorang yang soleh/an…bila semua orang menggunakan konsep ni..i’ALLAH…berlambak calon soleh/an yang akan kita jumpa….sungguh cantik aturannya…sama2 kita tilik diri…layak ke untuk kita mendapat calon ‘rebutan’ itu…klau tak…usaha awal adalah baiki diri agar layak…automatik lahirlah calon soleh/an yang baru….
sekadar pandangan…yang baik datangnya dari ALLAH yang Maha Agung…yang kurang tu atas kelemahan diri ini selaku hambaNya yang dhoif….

x

Thursday, 23 August 2012

Abang sayang Mia > Cerpen


“ Mama tak kira kamu kena kawin jugak dengan anak kawan mama ngan papa tu ”, tegas suara Puan Sri Sarimah. “ Saya tak mahu la mama.Mama tak boleh la nk paksa saya macam ni. Saya nak cari gadis pilihan hati saya bukannya perempuan kampung yang takda mak bapak tu.Please la mama.Papa tolong la Akmal ”, bantah Akmal sambil buat muka sekupang depan Tan Sri Musa memohon simpati. “ Jaga sikit mulut kamu tu. Jangan nak jadi kurang ajar menghina anak yatim piatu macam tu ”, jerkah Puan Sri Sarimah sampai naik meremang bulu roma Akmal. “ Papa ngan mama sudah membuat keputusan hendak mengahwini kamu dengan Mia. Titik. ”, tegas suara Tan Sri Musa setelah berdiam diri sebentar tadi.
Akmal mengambil keputusan untuk meninggalkan ibu bapanya tanpa sebarang kata putus. Dia dengan hangat hatinya meninggalkan perkarangan villa Sentosa yang terletak di Bukit Antarabangsa dengan hati yang panas membara. “ Oooooo.....Mia nama kau perempuan kampung. Siap la kau. Jangan harap aku nak terima kau jadi bini aku sampai mati. Kau hanya layak jadi orang gaji kat rumah aku bukannya bini aku ”, bebel hati Akmal dan dalam diam menyimpan dendam untuk perempuan yang bakal menjadi isterinya. Entah jadi ke tidak.
Hati Mia menjadi tidak keruan apabila memikirkan pinangan daripada rombongan dari Kuala Lumpur seminggu lepas. Opah cakap rombongan yang berkunjung itu merupakan sahabat ibunya semasa kecil. Opah cakap lagi yang Mia harus menerima pinangan kali ini kerana ini adalah amanah arwah ibu untuk menperjodohkan dirinya dengan anak kepada orang kaya KL tu. “ Kalau dah ini amanah ibu, Mia mesti tunaikan ”, Mia bermonolog sendiri.
“ Akmal terima untuk ambil perempuan tu jadi bini Mal ”, Akmal nekadkan diri. Akmal ke ni. Sanggup pula dia nak beristerikan Mia. Rupanya ada udang disebalik batu. Niatnya adalah hendak mengenakan Mia nanti sampai Mia menyesal kerana sebab Mia la Akmal kena kawin paksa. Kolot juga pemikiran mamat ni. “ Dia ada nama la Mal. Nur Mia Maisarah Binti Saari. Ingat tu jangan nak sesuka hati panggil orang ‘ perempuan tu ’, ” tegur Puan Sri Sarimah dengan panggilan anak terunanya terhadap bakal menantunya itu, Mia. “ Apa-apa je la mama. Akmal tak kisah pun and I don’t mind about his name ”, luah Akmal dengan bongkahnya. Nanti dia tau la nasib dia. Puan Sri Sarimah hanya mampu menggelengkan kepala sambil matanya tajam melihat anak tunggalnya meninggalkannya di ruang rehat itu. Tetapi Puan Sri Sarimah lega dan mengucapkan kesyukuran dengan berita itu. Dia sudah berkira-kira mahu melakukan persiapan perkahwinan sekarang juga. Sungguh teruja nampaknya Puan Sri ni.
“ Mak cik Sarimah telefon tadi cakap yang hujung minggu ni dia akan datang ke sini untuk mengikat tali pertunangan ”, opah menyusun ayat agar Mia tidak tersinggung. “ Mia tak kisah opah. Inikan amanah ibu. Mia turutkan je ”, balas Mia bersahaja. Opah melihat air muka cucunya yang agak keruh. Opah tau cucunya itu anak dan cucu yang baik. “ Opah doakan cu bahagia la nanti dan kecapi la kebahagiaan yang cucu tak pernah rasai sebelum ni ”, opahnya berdoa dalam hati sehingga mengalir air mata di pipi tuanya itu. “ Kenapa opah menangis ni? Mia ada buat salah ke opah? Mia mintak ampun opah ”, Mia mula cemas dengan linangan air mata opahnya sambil mengelap lembut air mata itu. “ Tak ada apa la cu. Mata opah ni masuk habuk la. Cuba Mia tiupkan kejap ”, opah cuba menenangkan hati cucunya itu. Moga kebahagian akan jadi milik mu Mia.

Rombongan peminangan pihak lelaki pun tiba la di Kampung Batu 14 pada tengahari Ahad tersebut. Dengan hajat ingin menyunting bunga di taman. Tetapi dalam kegirangan itu ada pula yang tak senang duduk. Siapa lagi kalau bukan Akmal yang dari tadi buat muka tak puas hati dengan mama dan papanya yang memaksa dia datang sekali. Dah la dia banyak kerja dekat pejabat sejak kebelakangan ini. Maklum la arkitek muda yang mendapat perhatian daripada papanya dan ahli lembaga kerana hasil kerjanya yang tip top dan jugak perhatian daripada gadis-gadis pejabatnya mahupun budak sekolah menengah yang tertarik dengannya. Siapa tak kenal Akif Akmal Tan Sri Musa yang kacak , putih kemerahan mukanya , tinggi lampai bak model katakan serta badan yang sasa. Pakej la untuk dia tetapi sombong habis.
Sampai sahaja di hadapan rumah papan yang agak pudar warna catnya tetapi hasil bina rumah itu cantik mata memandang. Kalau di beri tatahias pasti menarik jadinya. Akmal memberi pendapatnya. Baik pula mamat ni. “ Assalamualaikum...”, Tan Sri Musa memberi salam tanda mereka sudah tiba.   “ Waalaikummusaalam....jemput la naik semua ”, opah mempersilakan tetamunya itu. Puan Sri Sarimah bergegas mendapat opah untuk bersalam lalu memeluk tubuh tua itu dengan erat sambil mencium kedua belas pipi tua opah. Tindakan itu dibalas opah seperti anak beranak sahaja mereka.
Setelah selesai upacara pertunangan tersebut , hati Akmal begitu berkobar-kobar mahu melihat muka perempuan kampung yang dia paling benci itu kerana berjaya memusnahkan impiannya itu.    “ Mana pula perempuan ni. Siap la bila aku dah jumpa nanti. Memang aku hambur habis-habisan ”, Akmal dah mula merancang rancangan awalnya untuk mengenakan Mia. “ Haaa...Akmal ni la Nur Mia Maisarah ”, tiba-tiba Puan Sri Aminah menegurnya yang tengah geram sangat la tu. Terkejut Akmal dibuat mamanya. Akmal terus memalingkan muka untuk melihat perempuan yang dia benci sangat tu. Terkelu lidah Akmal apabila terpandangkan wajah di hadapannya. Wajah bujur sireh yang amat putih bersih dengan sedikit calitan alat solek kerana majlis ini kerana Mia memang tak pernah mengenakan sebarang alat solek kecuali lip balm sahaja. Mata bulat yang cukup menarik serta hidung yang sederhana mancung menyerlahkan keayuan Mia. Tidak lupa tubuh tinggi lampai milik Mia serta bibir munggil Mia yang kemerahan dan tidak terlalu nipis sudah cukup untuk membuatkan hati Akmal bergetar. “ Biar betul perempuan cantik macam model ni perempuan kampung tu ”, terlopong Akmal seketika sambil bermonolog dengan hatinya sendiri. Apa sudah kena ni?Tak kan la sudah jatu cinta. “ Tak!!!!!!Aku benci dia la ”, Akmal melawan suara hatinya kembali bagi mempertahankan egonya itu.
Pejam celik sahaja sudah tiba masanya majlis pernikahan Akmal dan Mia. Hanya sekali lafaz sahaja maka Nur Mia Maisarah sah menjadi isteri kepada Akif Akmal yang angkuh itu. Nasib kau la Mia. Malam itu Akmal merancang mahu mengena Mia kerana dia tak berpeluang sebelum ni. Siap la kau malam ni perempuan kampung. Usai sahaja mengerjakan solat Isyak Mia terus menghampiri suaminya. “ Kalau nak tidur kau tidur kat bawah faham tak ”, belum sempat Mia memulakan bicara Akmal terlebih dahulu memulakan rencananya yang sudah berapa lama pun tak tahu la. Mia hanya mengiakan sahaja kerana dia sedar dirinya siapa. Tidak layak tidur di atas katil bersaiz king yang pastinya empuk. Mia bersyukur sangat sebab dia merasa juga nak tidur dalam bilik berpenghawa dingin. Mia hanya tidur beralaskan karpet gebu yang bagi Mia amat selesa sekali kerana dia pernah tidur hanya berlapikan surat khabar di rumah papannya. Teringat Mia pada opahnya. Puan Sri Sarimah sudah mengajak orang tua tinggal sahaja dengan mereka tapi dia tak nak. Macam-macam alasannya. Akmal yang berada di atas katil tersenyum puas kerana rancangannya malam ni menjadi. Tetapi ada suatu perasaan yang janggal sekali dalam hati ini. Ahhh.....pedulikan la.
Sebelum bernikah lagi Akmal sudah merencanakan pelbagai idea jahat termasuk la sanggup menggunakan wang simpanannya untuk membeli sebuah rumah supaya dia dan Mia dapat berjauhan daripada mama dan papanya. Dengan itu mudah la dia hendak meneruskan niat jahatnya terhadap isterinya sendiri tanpa pengetahuan sesiapa tetapi dia lupa bahawa Allah S.W.T sentiasa memerhati ragam hambaNya di muka bumi ini. Tan Sri Musa dan Puan Sri Sarimah hanya mampu menurutkan sahaja kehendak anak tunggal mereka yang mahu pindah rumah dengan alasan mahu hidup berdikari dan inginkan privasi kononnya. Privasi nak kenakan Mia la tu. Mia pula hanya mengikut sahaja kemana suaminya pergi. Dah itukan tanggungjawab isteri sentiasa di sisi suami.
Mia ibarat orang gaji semenjak mereka suami isteri berpindah ke rumah teres tiga tingkat yang agak besar yang terletak di Bangsar. Semua benda yang Mia buat pasti ada yang tak kena di mata kasar Akmal. Tetapi Mia hanya menurut kerana Mia tidak pernah melawan cakap orang dan seorang yang berperwatakan mulia. Hal ini la yang membuatkan Akmal makin lama makin nakal membuli isterinya sendiri. Apabila di depan Puan Sri Sarimah dan Tan Sri Musa pasti Akmal akan berlakon mesra dengan Mia. Mia tak pula nak mengadu pada sapa-sapa. “ Aku tengok lantai dh berhabuk. Aku nak kau mop lantai satu rumah aku ni ”, arah Akmal dengan lentingnya padahal baru pagi tadi Mia mop lantai. Tetapi Mia tak pula membantah. Dia hanya mengiakan sahaja. Akmal pula apa lagi bukan main seronok dapat mengenakan Mia.
Dalam hati Akmal memuji hasil kerja isterinya tapi dalam hati sahaja la. Yang paling dia tak boleh lepas adalah time makan. Masakan Mia memang terbaik. Kalah mamanya. Ada apa-apa ke ni puji-puji habis. “ Abang nak tambah lagi nasi ”, Mia bertanya dengan lemah lembut. Mia hanya memerhatikan sahaja suaminya menjamu selera. “ Berapa kali aku dah cakap jangan panggil aku abang. Panggil aku Tuan. Korek sikit telinga kau tu.Pekak.” hambur Akmal tanpa belas kasihan. Ada pulak di suruhnya isteri panggil Tuan. Ini sudah kurang ajar. Tetapi bagi Mia dia hanya mengiakan sahaja setiap suruhan Akmal itu.
Sudah hampir tiga bulan Akmal dan Mia melayari bahtera rumah tangga tapi macam bukan suami isteri je. “ Cantik la bini kau macam model Mal.” Amran memuji isteri Akmal yang berlalu pergi selepas menghidangkan minuman dan sedikit makanan petang untuk mereka yang datang ke rumah pasangan suami isteri itu. “ Kau jangan nak pandang bini aku lebih-lebih bro.” Marah pulak si suami ni. Macam ada something je. “ Bukan kau tak suka ke dekat isteri kau tu. Tak dalam hati ada kebun bunga kot.” Amran mengejek sahabatnya itu. Mereka memang sahabat rapat. Dulu Akmal cakap yang dia benci dekat perempuan yang menjadi pilihan mamanya itu. “ Entah la Am, aku pun tak tahu nak cakap macam mana. “ Dua hari lepas aku dengan dia ada cakap dengan satu lelaki siap panggil abang lagi. Bukan main manja lagi aku dengar. Entah-entah lelaki tu buah hati dia tak.” Akmal meluahkan apa yang terbuku kepada sahabatnya. Amran sudah manghambur ketawa mendengar rintihan sahabatnya itu. “ Tau pula kau nak cemburukan. Aku ingat kau dah tak ada perasaan. Muka saja hansome tapi bab perempuan tak pandai handle langsung.” Amran memerli Akmal sambil gelak dengan terbahak-bahak. “ Bila masa pula ak jealous dekat dia. Please la bro.” Akmal menindakan telahan Amran. “ Tak nak mengaku pulak. Lantak kau la Akmal jangan kau terlopong sudah bila bini kau kena kebas dengan jantan lain. Isteri kau cantik dan hot market kot.” Amran terus mengusik sahabatnya itu. Air muka Akmal sudah berubah. Sah la Akmal cemburukan Mia. Nampaknya ada orang yang sudah tangkap cinta tapi ego tinggi macam Gunung Everest.

“ Aku nak cakap dengan kau sikit. Hari tu aku dengar kau ada cakap telefon dengan seorang lelaki siap bermadah panggil abang lagi. Boyfriend kau ke?.” Tanya Akmal macam peluru pistol tapi dalam hati sudah cemburu la tu. “ Tu kawan Mia tuan.” Balas Mia pendek. “ Tak sangka pulak aku muka kampung macam kau pun ada orang nak. Mesti lelaki tu buta tak pun pemikiran kampung macam kau jugak.” Tuduh Akmal lalu menghamburkan ketawanya tapi dalam hati timbul penyesalan. “ Bukan tuan.” Mia menafikan tuduhan suaminya. Akmal terus meloloskan diri untuk mandi setelah penat di pejabat tadi. Mia hanya memerhati jasad suaminya dengan pandangan kosong. Air mata Mia mengalir secara tiba-tiba.
Mia terpana apabila dia dengan tidak sengaja terpandang tubuh tinggi lampai suaminya yang sasa lagi tegap. Akmal hanya memakai tuala sambil mengelap rambutnya yang basah. Sebelum ni Mia tak pernah melihat tubuh suaminya tanpa seurat benang. Tampannya dia di mata Mia. Akmal perasan dengan pandangan tajam Mia ke tubuhnya itu. “ Kau dah jatuh hati dekat aku ke sebab badan aku yang seksi ni.” Tegur Akmal dengan senyuman sinis. Mati terus lamunan Mia dengan telahan suaminya itu. Mia terus melarikan pandangan matanya apabila terperasan yang suaminya memandangnya dengan tajam. Tanpa membuang masa Mia terus melarikan diri untuk ke dapur kerana dia sudah tertangkap dengan perlakuannya sendiri. Malu rasanya. Akmal pulak hanya tersenyum melihat telatah Mia. “ Comelnya muka isteri aku bila dia blushing.” Puji Akmal tanpa sedar. “ Apa aku merepek ni. Tak ada maknanya nak comel.” Akmal tarik balik pujiannya setelah tersedar dari lamunan. Habis la kau Akmal.
Malam ni tidur Akmal tak lena dek penangan isterinya. “ Kenapa aku asyik ingatkan dia saja ni?.” Akmal berbicara dengan hatinya sendiri. “ Ya Allah cantiknya dia tadi.” Puji Akmal lalu tersenyum apabila mengingatkan peristiwa yang tak disangka tadi.
Mia tepuk kepalanya sendiri apabila dia terlupa hendak membawa masuk pakaian ke dalam bilik mandi tadi kerana malu untuk bertentang mata dengan suaminya selepas kejadian dia tertangkap melihat badab suaminya tetapi bukan berdosa pun. Dengan nekad Mia memberanikan diri untuk keluar jugak dari bilik air setelah dia yakin yang suaminya mungkin sudah ke bilik kerjanya. Lagipun dia belum menunaikan solat Isyak. Walaupun waktu Isyak masih panjang tetapi dia bukan suka melengahkan waktu solat. Tetapi dugaannya salah sama sekali apabila jasad suaminya sedang bersandar di bahu katil sambil melayari sesuatu di computer riba. Akmal yang perasan kelibat Mia yang baru keluar dari bilik air terus terlopong melihat sebatang tubuh tinggi lampai yang putih melepak macam anak cina yang hanya berkemban dengan kain tuala. Mia naik malu apabila di pandang begitu oleh suaminya. Mia terkocoh-kocoh ke almari untuk mengambil pakaiannya yang wajib di pakai iaitu baju T-shirt lengan panjang dengan kain batik. Dalam langkahnya yang laju untuk menuju ke bilik air kembali dengan tidak semenanya kain tuala yang dikenakan di badannya terlucut tapi nasibnya agak baik dai sempat memaut kembali kain tualanya dengan muka yang menahan malu. Akmal yang melihat adegan itu terus terngaga besar apabila terlihat sedikit tubuh isterinya yang terdedah. Mahu pengsan di buatnya kerana sebelum ini dia tak pernah melihat tubuh Mia sebegitu bahkan dia belum merasmikan tubuh isterinya disebabkan ego menggunung. Mia menunaikan solat dibilik sebelah kerana takut ibadahnya tidak khusyuk dek kerana terdapat bara yang membuak di dalam bilik berhawa dingin itu. Malam ni ada yang tak lena tidur.


Akmal memejamkan mata apabila peristiwa sebentar tadi bermain di mindanya. Akmal memalingkan muka untuk melihat isterinya yang lena tidur di bawah. “ Cutenya dia ni.” Hatinya berbicara apabila melihat wajah bujur sireh Mia yang kelihatan polos dan tenang sahaja mata memandang. Sejak kebelakangan ini Akmal kerap mengusha isterinya dalam diam terutama ketika tidur. Tetapi apakan daya ego sudah menguasai diri ini la jadinya. Dulu bukan main benci lagi sekarang sudah pandai curi-curi pandang isteri sendiri.
“ Ya Allah opah.” Terjerit Mia apabila mendengar berita tentang kematian opahnya yang disahkan meninggal dunia kerana sakit tua. “ Mia bersabar nak.” Jiran Mia iaitu Mak cik Timah menenangkan Mia yang sudah dianggapnya anak sendiri. Kesian Mia sudah la jadi anak yatim piatu sejak kecil lagi akibat ibu bapanya terlibat dalam kemalangan sekarang dugaan menimpa dirinya lagi setelah opah yang menjaganya dengan penuh kasih sayang meninggalkannya buat selamanya. Akmal yang terdengar jeritan Mia terus berlari anak ke dapur. Sayu hati Akmal melihat isterinya yang menangis di lantai. “ Kau ni kenapa?.” Tanya Akmal tapi dengan nada yang rendah. “ Opah Mia , Opah Mia tuan.Opah Mia dah tiada.” Balas Mia dengan linangan air mata yang luruh seperti musim luruh di Negara Jepun lalu tanpa segan silu Mia terus mendapatkan sebatang tubuh suaminya lalu di dakapnya dengan erat. Akmal yang terkejut dengan berita pemergian Opah Mia terus terpana dengan tindakan isterinya. Akmal berasa ada suatu perasaan yang sukar di tafsirkan dan timbul perasaan bahagia yang berbunga mekar. Akmal membalas pelukan isterinya yang selama ini tidak pernah di layan seperti isteri. Kesiannya Mia Maisarah. “ Jom kita balik kampung sekarang.” Akmal mengajak Mia yang masih menangis teresak-esak.
Dalam perjalanan ke Kuantan , Mia hanya menangis manakala Akmal pula menumpukan tumpuannya di jalan raya. Dalam fokusnya itu sempat juga di melihat ke arah isterinya yang dilanda hiba. Puan Sri Sarimah dan Tan SrI Musa sudah sampai ke kampung selepas mendapat berita tersebut. Akmal dan Mia lewat sedikit kerana dekat jalan tadi ada accident. Akmal dan Mia sampai ke kampung sebelum tengahari. Mereka melihat teratak opah dipenuhi penduduk kampung dan beberapa saudara mara tetapi tidak ramai. Air mata Mia luruh dengan lebat lagi apabila melihat kelibat ibu mertuanya yang berlari anak dalam tangisan untuk mendapat menantunya bagi menenangkan hati yang tengah lara. “ Mia sabar sayang , mama ada untuk anak mama tau.” Luah Puan Sri Sarimah sambil dengan erat memeluk erat menantunya itu. Mia membalas pelukan ibu mertuanya dengan lemah sekali. Fikirannya kosong ketika ini. Akmal yang menyaksikan tangisan mama da isterinya turut merasa pilu dan tidak semena-menanya air mata lelakinya luruh juga melihat wajah isterinya yang sugul. Mana ego kau Akmal. Hati Akmal berbisik.
Lemah rasa lutut Mia apabila terpandang sekujur jasad yang sudah tak bernyawa di hadapannya. Mia sudah mahu rebah di muka pintu tapi sempat di paut oleh suaminya. Mia memandang Akmal dengan pandangan kosong tetapi lain pula mamat ni. Akmal rasa seperti mahu sahaja peluk isterinya. Sayang sudah nampaknya mamat sombong ni pada isteri sendiri. Mia terus mendapatkan opahnya lalu memeluk erat dan mencium seluruh pelusuk wajah lesu opah. “ Kenapa opah tinggalkan Mia. Opah dah tak sayangkan Mia lagi ke.” Luruh lagi air mata Mia. “ Bawa mengucap Mia.” Mak cik Timah memujuk Mia lalu memeluk belakang Mia. Puan Sri Sarimah yang melihat keadaan Mia turut tidak mampu menahan dan menghamburkan air mata lalu mendakap erat tubuh Mia. “ Mia sayang opah. Siapa lagi nak sayang Mia lepas ni opah?.” Mia meluahkan perasaan. Akmal yang mendengar luahan tersebut berasa seperti di hempap batu. Ya Allah apa hambamu ni dah buat pada isteriku ini. Akmal menyesal dengan kelakuannya sendiri.
Mia duduk termenung di pangkir bawah pokok rambutan di hadapan teratak opah. Semua orang hanya membiarkan Mia melayan perasaan dan menenangkan diri. Akmal sudah nekad mahu berada di sisi Mia sekali gus meluahkan perasaannya yang selama ni sudah lama terbuku tetapi ego punya pasal dia sanggup melayan isterinya macam orang asing. Belum sempat dia ingin melangkah ke  arah  Mia , terdapat sebuah kereta sport memasuki perkarangan rumah itu. Mati niat Akmal apabila melihat sebatang tubuh tinggi lampai yang keluar dari kereta itu. Wajah jejaka itu cukup kacak untuk membuat hati wanita cair. Kaca mata hitam yang terletak di batang hidungnya yang mancung menambahkan lagi kemachoan lelaki yang tidak di kenali itu. Lelaki itu menuju ke arah Mia. Hati Akmal sudah membara dengan api cemburu melihat lelaki itu memandang wajah isterinya seperti melihat kekasih. Apa hubungan lelaki tu dengan Mia? Hati Akmal meronta ingin tahu.
“  Assalamualaikum Mia.” Lelaki itu memberi salam apabila melihat yang Mia tidak sedar kedatangannya tadi. Masih cantik kau Mia seperti dulu-dulu. “ Waalaikummussalam.....Abang Hakimi!!!!.” Mia terkejut dengan kehadiran lelaki yang bernama Hakimi. “ Abang Kimi nak ucapkan takziah pada Mia. Abang Kimi minta maaf sebab abang baru tahu berita ini dari Kamelia.” Hakimi menuturkan dengan penuh tertib. Kamelia adalah kawan baik Mia. “ Tidak mengapa. Mia tahu Abang Kimi sibuk.” Balas Mia. “ Kenapa Mia tak beritahu abang Kimi yang opah meninggal?.” Tanya Hakimi dengan nada yang agak kecewa. “ Mia minta maaf.” Ringkas Mia membalas.
Ada hati yang tengah meruap melihat drama di depan matanya. “ Berabang la bagai.” Marah hati Akmal apabila dia terdengar perbualan Mia dan lelaki yang bernama Hakimi. Akmal nekad untuk jadi benteng antara dua insan yang membuat hatinya tidak keruan. “ Assalamualaikum.” Akmal memberi salam lalu menghulurkan tangan ke arah Hakimi dengan pandangan yang berapi-api.                            “ Waalaikummussalam.” Balas Hakimi dan Mia serentak lalu Hakimi menyambut huluran tangan Akmal dengan pandangan kurang berpuas hati. Ini mesti lelaki yang merampas Mia aku. Bisik hati Hakimi sambil tersenyum palsu. “ Ini suami Mia, Abang Kimi dan ini kawan Mia.” Mia memperkenalkan Hakimi kepada Akmal serta memperkenalkan Akmal kepada Hakimi. Panas hati Akmal apabila Mia memanggil Hakimi dengan panggilan abang. Manakala Hakimi pula sakit hati apabila Mia memperkenalkan Akmal sebagai suami. Kedua-dua jejaka tampan itu bermain dengan perasaan sendiri.
Sakit hati Akmal masih bersisa setelah kehadiran Hakimi petang tadi. Tambah pula Mia memanggilnya abang lagi. Mia masuk ke bilik dengan longlai ibarat Akmal tidak wujud langsung dalam bilik tu. Dah la Mia hari tidak menjamah sedikit pun makanan. Dari tadi air mata sahaja yang menemani dirinya. Akmal yang masih benggang dengan Mia terasa tersentuh melihat keadaan Mia. Masih terngiang lagi luahan hati Mia semasa di hadapan jasad opah tadi. “ Aku sayangkan dia Ya Allah.” Bisik Akmal sendirian. Mia mengambil tempat di bawah untuk tidur yang hanya berlapikan tikar mengkuang. Akmal hanya melihat Mia dengan penuh kasih walaupun suasana bilik yang samar-samar dengan cahaya lampu dari ruang tamu. Akmal terdengar esakan Mia walaupun tidak kuat tapi cukup untuk telinga Akmal menangkap bunyi tersebut. Akmal bertambah pilu dan ikutkan hati mahu sahaja dia peluk bagi menenangkan hati isterinya. Akmal melihat tubuh tinggi lampai Mia yang berbaring dengan pandangan yang penuh makna. “ Sepatutnya aku sebagai suami kena la hiburkan hati si isteri yang tengah berduka. Apa aku nak buat ni? ” Akmal bermonolog dengan diri sendiri.


Mia teringatkan kenangannya bersama Opah. “ Kenapa opah tinggalkan Mia? Opah tau kan Mia sayangkan opah sangat-sangat.” Rintih hati Mia. Mia terasa ada tangan yang merayap di pinggangnya. Bukan main terkejut lagi apabila dia melihat yang suaminya memeluknya dari belakang. Walaupun dalam kesamaran malam tapi Mia dapat melihat pandangan suaminya yang tajam ke dalam matanya. “ Makin hansome pulak suami Mia buat muka macam ni.” Kata hati Mia. “ Mia jangan menangis ye.” Akmal memujuk Mia dengan nada suara manja. Mia terpana dengan pujukan suaminya kerana sebelum ni Akmal akan mengguna ‘aku’ atau ‘kau’ apabila bertutur dengannya. “ Apa dah kena dengan suami Mia ni? ” bisik hati Mia. Akmal memalingkan muka Mia ke arahnya. Wajah putih Mia sudah di serbu dengan kemerahan. Mia malu dengan pandangan suaminya tetapi dia beranikan diri juga mahu membalas pandangan suaminya itu. Akmal mencium dahi Mia di ikuti kedua belah pipi lembut Mia. Satu perasaan kasih timbul di hati Akmal untuk gadis di hadapannya kini. Mia pula terasa di awangan apabila mendapat ciuman hangat dari lelaki yang bergelar suami. Jantung Mia berdengup dengan kencang sekali seperti ribut taufan. Tanpa di duga Akmal dengan beraninya mendaratkan bibirnya ke bibir munggil milik Mia. Lama mereka dalam keadaan itu. Mia hanya mampu membatukan diri tanpa sebarang tolakan. Mia tertunduk malu walaupun tidak berdosa pun perlakuan mereka. “ Abang nak tidur dengan Mia boleh? ” tanya Akmal dengan nada yang romantis sekali. Hati Mia berbunga-bunga bahagia. Selama mereka menjadi suami isteri Akmal tidak pernah mengelarkan dirinya ‘ abang ’ dan memanggil Mia dengan panggilan nama. Mia hanya mengganggukkan kepala dengan soalan suaminya. “ Kenapa tak nak cakap sepatah pun dengan abang?Kenapa tak pandang muka abang?Abang dah tak hansome ke? ” tanya Akmal bertubi-tubi dan sempat lagi puji diri sebdiri. Mia menggelengkan kepala. Mia mengangkat muka memandang wajah tampan suaminya. “ Nanti badan tuan sakit pula tidur atas lantai ni.” Mia bersuara. Dengan tiba-tiba sekali lagi bibir Mia menjadi mangsa bibir Akmal. Mia terkejut bukan kepalang lagi kerana dengan tiba-tiba sahaja. “ Lepas ni jangan nak gatal mulut panggil Tuan lagi. Panggil abang tau sayang. Kalau tidak abang cium sayang lagi.” Balas Akmal dengan senyuman bahagia di bibirnya. Mia bertambah malu apabila Akmal memanggilnya ‘ sayang ’. Bermimpikah dia. Sempat lagi Akmal mencubit lembut pipi isterinya. Mia pula bertambah malu dan muka sudah kemerahan. Nasib baiklah bilik ni agak gelap. “ Abang nak minta maaf sayang sebab selama kita berkahwin abang tak pernah melayan Mia sebagai seorang isteri. Abang selalu kenakan Mia , buli Mia , sakitkan hati Mia , suruh Mia tidur dekat lantai , abang selalu kasar dengan sayang dan macam-macam lagi kesalahan abang buat dekat Mia. Abang min......” belum sempat Akmal menghabiskan tuturnya bibir Mia pula sudah melekat di bibir Akmal. Akmal pula terpana dengan tindakan isterinya. Mia pula malu sendiri dengan tindakan spontannya. “ Bukan salah abang pun. Mia tak kisah la abang. Sudah jadi tanggungjawab Mia untuk ikut cakap abang.” Balas Mia dengan penuh keikhlasan. Akmal terharu dengan ucapan isterinya. Makin bertambah kasih sayangnya terhadap Nur Mia Maisarah. Akmal terus mendakap erat tubuh Mia. Mia membalas pelukan suaminya dengan air mata bahagia. “ Terima kasih Ya Allah kerana mengurniakan kebahagiaan ini untuk hambamu. Hambamu memohon supaya kebahagiaan ini akan berkekalan sampai hujung nyawa. Amin.” Ucap kesyukuran Mia dalam hati. “ Abang sayang Mia sangat-sangat. Abang cintakan Mia , sayang.” Luah Akmal dengan penuh erti keikhlasan. Mia yang mendengar ucapan kasih suaminya terus mengalirkan air mata. “ Mia sayang abang banyak-banyak. Mia cintakan abang. Abang jangan tinggalkan Mia ” Balas Mia dengan kasihnya. Akmal terharu dan mengeratkan lagi pelukannya. Mereka hanyut dalam dunia mereka sendiri dengan penuh kebahagiaan yang baru sahaja dikecapi.

Keesokan paginya Akmal  sudah terpaksa berangkat pulang ke Kuala Lumpur kerana esoknya Akmal ada perjumpaan dengan klien penting dari Korea Selatan. Apa boleh buat sudah berjanji. Puan Sri Sarimah pula menyuruh Mia agar di tinggalkan di kampung kerana Mia boleh balik dengan Puan Sri Sarimah. Terpaksalah dia meninggalkan isteri yang baru di ucapkan sayang semalam. Berat rasanya hati dia mahu meninggalkan isterinya. Takut juga jika di ganggu Hakimi. “ Abang balik dulu sayang. Sayang abang jangan menangis lagi tau. Abang sayang Mia. Abang akan rindukan Mia nanti. Cepat balik rumah kita ye sayang.” Ucap Akmal dengan berat hati dan penuh kasih. “ Mia rindukan abang. Abang jaga diri tau. Hati-hati memandu. Sudah sampai nanti call Mia tau. Mia sayangkan abang.” Penuh kasih ucapan Mia kepada suaminya. Akmal memeluk erat tubuh Mia lalu mencium kedua belah pipi isterinya yang Berjaya mengetarkan jiwa lelakinya.
Sudah tiga hari Mia di kampung kerana menguruskan kenduri arwah opah bersama Puan Sri Sarimah. Rindunya rasa hati Akmal bukan main kepalang lagi. Hanya suara Mia yang jadi pengubat rasa rindunya. Hari ni di pejabat di rasakan bosan sekali.
Sampai sahaja Akmal di rumah, dia terus naik ke bilik dengan langkah yang orang macam mati bini. Selalunya Mia akan tunggu di muka pintu untuk menyambutnya. Walaupun Akmal melayan nak tak nak je isterinya tetapi Mia tetap memaniskankan muka menyambut suaminya. Pintu bilik di kuak, terasa kosong sahaja dirasakan Akmal. Tidak semena-menanya terasa ada tangan yang melingkar pinggang sasa Akmal dari arah belakang. Akmal terus memalingkan muka dengan hati yang bukan main gembira lagi. “ Sayang abang.” Jerit Akmal lalu memeluk Mia dengan eratnya. “ Assalamualaikum abang sayang. Mia rindu sangat dekat abang.” Mia memberi salam kepada suaminya. “ Waalaikummussalam sayang abang. Kenapa balik tak cakap? Sampai hati Mia.” Balas Akmal dengan suara yang merajuk. Inginkan perhatian la tu. Macam budak-budak la Akmal ni. Mia terus cubit lembut pipi kiri suaminya lalu menjongketkan sedikit kaki untuk mencium kedua belah pipi suami tercinta. Akmal pula membalas dengan mencium bibir isterinya. Denda la tu sebab balik senyap-senyap. “ Mia minta maf abang. Mia cuma nk buat surprise dekat suami Mia ni.” Balas Mia dengan senyuman manis sekali. Cantik sungguh isteriku ini. Terpujuk hati Akmal dengan kepulangan Mia ke rumah. Mia bertambah berseri-seri. Patutlah Akmal gila bayang dengan isteri dia sendiri. Ini la penangan Nur Mia Maisarah.
Usai sahaja mengerja solat Isyak berjemaah tadi, Akmal terus mendukung tubuh Mia ke arah katil yang bersaiz king itu. “ Abang nak tanya Mia boleh tak? ” soal Akmal kepada Mia yang sedang menyandarkan kepada ke dada bidang Akmal. “ Apa dia abang, tanya la.” Balas Mia sambil mengusap lembut jemari Akmal. “ Apa hubungan Mia dengan Hakimi? ” Lembut suara Akmal. Mia memandang suaminya. Pasti suaminya cemburu. “ Betul abang nak tahu ni? ” tanya Mia kembali dalam usaha mahu menguji suaminya. Air muka suaminya sudah berubah dan Akmal berharap yang Hakimi tu tiada hubungan dengan isteri kesayangannya. “ Abang Hakimi adalah senior Mia masa dekat universiti dulu. Tu je abang sayang.” Balas Mia dan berharap suaminya tidak cemburu lagi kerana dia dengan Hakimi bukan ada hubungan istimewa. “ Mia pernah masuk U? Abang tak tau pun sayang.” Akmal bertanya ingin tahu. “ Sudahnya abang tak tanya. Lagipun abang dulukan jual mahal sangat dekat Mia.” Mia membalas dengan gelak tawa nakal. Akmal terus mencuit hidung Mia. “ Mia belajar mana dulu.” Tanya Akmal. “ Seoul National University.” Balas Mia bersahaja. Terlopong Akmal apabila mendapat tahu isterinya graduan luar negara. “ Sayang belajar dekat luar negara? Mama tak pula bagi tahu yang sayang belajar dekat luar negara.” Akmal membalas.                               “ Mia minta maaf abang. Mia yang minta mama rahsiakan dari abang.” Ulas Mia sambil mengusap lembut pipi suaminya. “ Sampai hati Mia buat abang macam ni.” Balas Akmal dengan rajuk lalu bangun dari katil. Mia yang melihat reaksi suaminya terpinga-pinga. “ Mia minta ampun abang. Mia tak sengaja nak buat abang berkecil hati.” Mia merayu lalu memaut tangan suaminya. Akmal tiba-tiba mendukung Mia dan di letaknya di atas katil kembali. Didaratkan ciumkan kasih di dahi Mia. Mia memeluk erat tubuh suaminya. “ Abang....Mia nak minta izin abang? Mia nak jadi guru kalau la abang izinkan? ” tanya Mia dengan penuh harapan kerana itulah impiannya sejak dari kecil walaupun dia boleh menjadi engineer dengan ijazah yang di milikinya. “ Boleh sayang.” Balas Akmal ringkas. Akmal membalas pelukan isterinya dengan berbunga-bunga. Kebahagian pasti menjadi milik setiap hambaNya yang bersabar.
Pasangan suami isteri yang bahagia sekarang tu sedang begitu asyik masak bersama-sama. Amboi Akmal dah tolong bini masak nampak. Dulu kau bukan main dera dia lagi. “ Abang tengok masa dekat kampung hari tu Hakimi pandang sayang macam suka saja dekat isteri abang ni.” Akmal bertanya isterinya mahu mengorek rahsia la tu. “ Kalau abang nak tahu yang abang Kimi tu pernah luahkan perasaan masa kami belajar dekat Korea dulu tapi Mia Cuma anggap dia senior and as a brother only not more than that.” Terang Mia pada suaminya. “ Abang dah agak dah. Tetapi boleh tak jangan panggil dia abang.” Akmal mengarah Mia. Mia tergelak melihat telatah suaminya. Cemburu rupanya. “ Abang jangan risau, dalam hati Mia ada abang saja. Mia sayang sangt pada abang.” Mia mengambil hati suaminya. Akmal memeluk Mia dari belakang sambil memerhatikan isterinya memotong sayur sawi. “ Mia nak tau tak macam mana abang boleh jatuh cinta pada sayang? ” tanya Akmal mahu membuka pekung di dada. “ Nak abang.” Jawab Mia beria-ria. “ Abang jatuh cinta pada sayang masa masa hari kita bertunang dulu. Sayang cantik sangat macam model tu yang buat abang tertarik dan tak boleh tidur malam. Sekarangkan sayang bukan sebab rupa sayang yang cantik tapi sebab hati sayang baik. That why I mad in love with you again and again my sweetheart.” Ucap Akmal dengan penuh kasih sayang terhadap Mia lalu mencium pipi isterinya.        “ Mia jatuh cinta pada abang masa hari pertunangan kita juga. Masa tu Mia fikir betul ke ni bakal suami aku.” Mia menghabiskan ulasannya macam tu saja. Akmal terpinga-pinga. “ Kenapa Mia? Apa yang sayang fikirkan masa tu? ” tanya Akmal inginkan kepastian. “ Abang kacak tahu tak pada mata Mia. Mia terfikir la abang ni mesti banyak peminat tak pun abang ni playboy.” Usik isterinya. Akmal terus mencium pipi Mia. “ Abang sayangkan Mia je.” Jawab Akmal dengan penuh kasih. “ Mia bergurau je abang sayang,” Mia terus mencuit hidung suaminya.
Permohonan Mia untuk menjadi guru telah di luluskan oleh Kementerian Pendidikan Malaysia. Mia gembira dengan berita yang di terimanya itu serta ada satu lagi berita yang lagi mengembirakannya. Dia ingin berikan kejutan untuk suaminya nanti. Malam itu selesai sahaja mereka makan malam bersama-sama , Mia terus memaut lengan suaminya yang duduk di sofa sambil menonton televisyen. Akmal menghadiahkan ciuman di pipi isterinya. “ Mia ada something nak beritahu abang.” Mia memulakan bicara. “ Apa sayang. Cakap la.” Akmal memasang telinga. “ Pemohonan Mia diluluskan abang. Bulan depan Mia dah boleh bertugas.” Beritahu Mia dengan gembiranya. “ Alhamdullilallah sayang. Tahniah Cikgu Mia Maisarah.” Ucap kesyukuran. “ Terima kasih untuk abang sebab abang banyak beri semangat dekat Mia. Then, next news is I’m pregnent. Two month now abang.” Berita yang tergempar telah dibocorkan. “ What? Are you serious sayang? ” Akmal bertanya ingin kepastian. “ Betul abang. Tak lama lagi abang dengan Mia akan jadi papa dan mama,” balas Mia bagi meyakinkan suaminya. “ Alhamdullillah Ya Allah dengan kurniaan ini.” Akmal mengucap kesyukuran lalu mencium kedua belah pipi isterinya yang tersenyum bahagia dengan berita yang di terima.
Sudah sebulan Mia menjalankan tugas sebagai seorang guru. Maka usia kandungannya juga sudah menginjak ke empat bulan. Walaupun baru empat bulan tetapi perut Mia kelihatan agak memboyot. Apabila melakukan check up bulan lepas doktor cakap baby sihat je. Mia selalu berdoa agar kandungannya sihat. Hari ini seperti biasa Akmal akan datang menjemputnya kerana hari ini suaminya itu bercuti. Selalunya Pak Mat akan datang jemput. Pak Mat sebenarnya pemandu ibu dan bapa mertuanya. Mereka tidak mahu Mia pulang sendiri kerana Akmal sibuk di pejabat. “ Assalamualaikum cikgu. Saya nak hantar buku latihan.” Sapa seorang pelajar tingkatan lima yang memang cantik kerana ibunya berketurunan Arab manakala bapanya orang Melayu. “ Waalaikummussalam Atilia. letakkan di situ. Terima kasih Lia.” balas  Mia terhadap anak muridnya itu. “ Cikgu tak balik lagi? ” tanya Atilia. “ Tengah tunggu suami cikgu ni.” Balas Mia.                                “ Assalamualaikum.” Salam di beri. “ Waalaikummussalam.” Balas Mia dan Atilia serentak. Mia menghulurkan tangan untuk menyalami suaminya dan Akmal menghulurkan tangan sambil memberi senyuman kepada Atilia. “ Abang bawakan barang Mia dulu ye. Nanti Mia ikut.” Akmal terus mengambil barang isterinya lalu keluar dari bilik guru menuju ke kereta. “ Hansomenya suami cikgu.” Puji Atilia. “ Ye ke cikgu tak perasan pula Lia. Cikgu balik dulu Lia. Jumpa esok tau.” Mia bersalam dengan anak muridnya lalu melangkah pelahan menuju ke kereta. Sejak mengandung ni dia tak boleh nak jalan laju-laju. Sudah berapa kali dia menerima pujian dari rakan sepengajarnya tentang ketampanan suaminya. Apa boleh buat sudah dapat suami hansome. Terima sahaja la Mia.
Mia telah di sahkan mengandungkan twin baby. Mia bukan main gembira lagi tetapi Akmal bimbang kerana perempuan pregnent twin ni ada banyak komplikasi. Akmal menjaga Mia dengan baik sekali. Semasa scan hari tu doktor cakap maybe Akmal dengan dapat dua baby girl. “ Abang nak bagi anak kita nama apa eh? ” tanya Mia kepada suaminya yang senang mengetip kuku Mia. Sweetnya. “ Kalau perempuan abang nak letak Nur Mia Tasneem dan Nur Mia Tasleem. Then kalau lelaki abang serahkan pada sayang.” Balas Akmal lalu tersenyum. “ Abang letakkan Nur Mia di hadapan anak kita? Pandai abang pilih nama.” Terharu Mia kerana suaminya letakkan pangkal namanya untuk anak mereka.
Akmal yang menerima panggilan mamanya memberitahu yang Mia sekarang berada di hospital kerana Mia sudah mahu bersalin. Akmal terus bergegas ke hospital untuk memberikan kekuatan kepada isterinya. Di mata Mia timbul lakaran ibu bapanya dan opah yang tersenyum kepadanya. Mia membalas senyuman mereka. Mia di bawa ke bilik bersalin dengan segera. Tidak lama selepas itu Akmal sampai dengan muka yang bimbang. “ Mia mana mama? ” Akmal bertanya kepada mamanya. “ Mia ada dalam nak.” Balas Puan Sri Sarimah. Akmal terus masuk ke bilik bersalin itu tanpa membuang waktu dan di hadapannya isterinya sedang bertarung dengan nyawanya sendiri untuk memberikan anak mereka peluang untuk bernafas di muka bumi ini. Akmal terus mengenggam erat tangan isterinya. “ Abang ada sini Mia.” Ucap Akmal di telinga isterinya. Mia dapat rasakan kekuatan dari pautan tangan suaminya. “ Puan Maisarah sikit lagi. Teruskan push then take a breath.” Doktor perempuan dalam lingkungan 40-an memberikan panduan. Akmal mengucapkan kesyukuran apabila isterinya selamat melahirkan anak pertama mereka. Akmal melihat anaknya dengan linangan air mata kegembiraan. “ Tahniah Encik anak perempuan,” Doktor itu memberitahu. “ Anak kita cantik macam sayang. Sayang kuat tau. Ada seorang lagi sayang.” Akmal memberikan semangat kepada isterinya. Namun begitu, Mia sudah kelihatan lemah dan tidak bermaya. Doktor yang menjadi bidan Mia sudah bimbang. “ Puan harus kuat kalau tidak....” Doktor itu tidak meneruskan cakapnya apabila melihat muka Akmal sudah berubah. “ Kalau tidak apa doktor.” Tanya Akmal dengan cemas.               “ Maybe baby boleh meninggal dalan rahim and can effect to you wife as well.” Jawab doktor tersebut dengan berhati-hati. Pucat muka Akmal mendengar jawapan doktor itu. “ Sayang kena kuat. Demi anak kita dan abang. Mia sayangkan abangkan? Mia kuat tau. Abang ada sini teman Mia.” Akmal membisikkan di telinga isterinya dengan air mata yang sudah luruh dengan lebatnya. Air mata Mia turut berlinang. Dia mesti kuat untuk anak dan suaminya. Wajah  arwah  Ibubapa dan opahnya bermain di matanya. Mia terasa kekuatan mereka meresap ke dalam dirinya. Terasa harapan suaminya turut menjadi penguat kepada dirinya. Mia meneruskan perjuangannya untuk memberi nafas baru kepada cahaya matanya. Doktor menarik nafas lega apabila cahaya mata Akmal dan Mia yang kedua selamat dilahirkan. Mia kelihatan penat dan lemah sekali tetapi syukur ke hadrat ilahi Mia stabil. Mia terlalu penat sehingga terlelap tanpa sempat melihat buah hatinya yang baru dilahirkan. Akmal melaungkan azan ke telinga kedua-dua anak perempuannya. Puan Sri Sarimah dan Tan Sri Musa tersenyum melihat wajah anak mereka yang bahagia bersama cucu-cucu mereka.
Mia membuka matanya perlahan-lahan. Mia melihat wajah suaminya yang tersenyum padanya.          “ Kacaknya suami Mia ni.” Sempat lagi Mia memuji dalam hati. Itu la tanda kasih sayang seorang isteri kepada suaminya. Mia membalas senyuman suaminya. “ Mana anak kita bang.” Lemah suara Mia bertanya. Akmal mencium pipi isterinya lalu bangun berlalu pergi. Mia keliru dengan kelakuan suaminya dan dalam hatinya timbul perasaan panik. Tiba-tiba Akmal datang ke arah Mia dengan memangku dua anak kecil. Mia mengalirkan air mata kegembiraan. Akmal meletakkan cahaya matanya di sebelah kanan dan kiri Mia. Mia mencium kedua-dua buah hatinya dengan penuh kasih sayang. Mia menghulurkan tangan ke arah suaminya lalu mencium tangan suaminya dengan penuh kebahagiaan. Akmal terus mendaratkan bibirnya ke dahi lesu isterinya. Puan Sri Sarimah dan Tan Sri Musa yang melihat perlakuan anak menantu mereka berasa bahagia dan gembira dengan perubahan anak teruna mereka yang sudah banyak berubah sejak menikahi Nur Mia Maisarah.
“ Anak papa dah makan? ”Akmal bertanya kepada puteri-puterinya yang sedang berada di sisi isterinya. “ Nur Mia Tasneem dan Nur Mia Tasleem sudah minum susu papa.” Mia bergurau dengan suaminya. Mia baru sahaja melewati waktu berpantang. Akmal terus mengambil tempat di sebelah Mia lalu mencium pipi isterikan seperti biasa dengan manjanya. “ Mia sudah makan sayang.” Tanya Akmal dengan penuh kasih seorang suami. “ Sudah abang tadi. Papa dah makan? ” jawab Mia. Sejak jadi mama orang ni Mia sudah pandai bergurau. Siap panggil suaminya papa lagi. “ Belum lagi mama. Papa nak mama suapkan boleh sayang? ” tanya Akmal dengan manjanya macam anak kecil. “ Mestilah boleh. Hari ini mama masak ketam masak lemak tau. Nanti mama suap papa. Papa kena makan banyak-banyak.” Balas Mia dengan manja juga lalu mencubit pipi suaminya. Akmal tersenyum dengan kenakalan isterinya. “ Nanti badan abang naik macam mana sayang? ” tanya Akmal kepada isterinya. “ Lagi bagus. Nanti tiada siapa nak dekat suami Mia yang hansome ni. Biar Mia sudah la jadi suri hati abang.” Balas Mia dengan selamba. “ Abang sayang Mia sampai hujung hayat abang.” Luah Akmal dengan keikhlasan. Mia terharu dengan pengucapan suaminya. Mia memeluk erat suaminya. “ Mia juga sayangkan abang sampai hujung nyawa Mia. Mia hanya ada abang dengan anak-anak kita dalam dunia ni. Mia cintakan abang.” Mia pula meluahkan perasaan kepada suaminya. Akmal terharu dengan luahan isterinya yang begitu ikhlas kedengaran di gegendang telinganya. Satu ciuman dari Akmal melekap di bibir munggil Mia. “ Abang janji akan jaga Mia dan anak-anak kita macam nyawa abang. You must remember this sayang. Abang cintakan Mia sangat-sangat.” Akmal meluahkan lagi perasaannya untuk isterinya yang amat dicintai. Kebahagiaan yang selama ini diimpikan Mia sudah berada di depan mata. Semoga cinta mereka akan berkekalan.




Saya karang cerpen nie masa cuti raya...........harap terhibur la walaupun saya baru belajar mengarang..